Iran Serang Dua Kapal Tanker AS di Selat Hormuz

Iran Serang Dua Kapal Tanker AS di Selat Hormuz

Sabtu, 01 Agustus 2026, Agustus 01, 2026
 

trimatra news -- Iran dilaporkan menyerang dua kapal tanker minyak yang dijaga oleh militer Amerika Serikat (AS) saat melewati Selat Hormuz pada Jumat (31/7) waktu setempat. Serangan tersebut disebut dilakukan karena kedua kapal dianggap melanggar peraturan pelayaran yang ditetapkan oleh Teheran, serta memperparah ketegangan di jalur distribusi minyak yang paling kritis di dunia.

Dilaporkan oleh Guardian, korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) mengatakan kedua kapal tanker tersebut dihentikan setelah memasuki Selat Hormuz melalui jalur yang tidak diakui oleh Iran. Menurut Teheran, kapal-kapal tersebut juga ditemani oleh pasukan udara Amerika Serikat.

Dalam pernyataannya, IRGC menyatakan, "kapal tanker minyak yang tidak mematuhi aturan diserang dan dihentikan, sementara empat kapal tanker lainnya segera berubah arah dan kembali ke posisi semula."

IRGC juga menyebutkan bahwa kapal-kapal tersebut berusaha melewati Selat Hormuz melalui jalur yang tidak diketahui di bawah perlindungan pesawat militer Amerika Serikat.

Selat Hormuz Kembali Menjadi Titik Kekuatan Persaingan

Insiden terkini ini lagi-lagi menjadikan Selat Hormuz sebagai titik fokus ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Kedua negara masing-masing mengklaim memiliki peraturan pelayaran yang harus diikuti oleh kapal-kapal niaga yang melewati wilayah tersebut.

Iran mengancam akan menyerang kapal yang melewati jalur selatan dekat pantai Oman, sementara Amerika Serikat juga mengancam kapal-kapal yang dianggap melanggar pembatasan terhadap Iran.

Sejak perang antara dua negara kembali meletus sekitar dua minggu yang lalu, lalu lintas kapal di Selat Hormuz hampir berhenti total. Gangguan terhadap jalur distribusi energi global tersebut menyebabkan harga minyak dunia terus meningkat.

Pada hari Kamis, harga minyak mentah telah melebihi USD 90 per barel setelah Amerika Serikat menyerang Iran sebagai balasan atas serangan Teheran terhadap pangkalan militer AS di Yordania.

Perang Menyebar ke Kuwait dan Lebanon

Pada saat yang bersamaan, perang juga menyebar ke negara-negara lain di kawasan Teluk.

Kementerian Pertahanan Kuwait menyatakan telah menghancurkan beberapa pesawat tak berawak Iran yang menuju 'fasilitas penting dan militer' tanpa menimbulkan korban jiwa.

Di wilayah selatan Lebanon, militer Israel melakukan ledakan besar di sekitar Kastel Beaufort. Israel mengklaim operasi ini ditujukan pada terowongan dan fasilitas milik Hizbullah.

Ledakan tersebut terdengar di berbagai wilayah di bagian selatan Lebanon dan menyebabkan area sekitar lokasi tertutup debu. Foto-foto dari tempat kejadian juga menunjukkan area yang terkena dampak rata akibat besar ledakan itu.

Pejabat Lebanon menyalahkan Israel atas pelanggaran kesepakatan gencatan senjata. Namun, militer Israel menyatakan operasi tersebut dilakukan demi menjaga keamanan wilayah utara negaranya.

Trump Mengadakan Rapat Kabinet untuk Membahas Perang Iran

Di Washington, Presiden Donald Trump mengundang anggota kabinetnya ke Camp David, Maryland, guna membahas perkembangan konflik yang masih terus berlangsung.

Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt sebelumnya menyatakan bahwa pertemuan kabinet tersebut akan menjadi 'sangat menyenangkan dan pengalaman yang berbeda bagi anggota kabinet'.

Namun, fokus utama rapat adalah perang melawan Iran yang sebelumnya dijanjikan oleh Trump akan berlangsung hanya beberapa minggu, tetapi kini telah memasuki bulan kelima.

Survei terbaru Reuters/Ipsos menunjukkan penurunan dukungan masyarakat terhadap perang. Hanya sekitar sepertiga penduduk Amerika yang masih mendukung operasi militer tersebut, yaitu tingkat dukungan terendah sejak konflik berlangsung.

Di Kongres, Senat Amerika Serikat juga tidak berhasil mengesahkan resolusi simbolis yang meminta penghentian perang setelah mendapatkan hasil pemungutan suara yang sangat ketat yaitu 49 lawan 50.

Di sisi lain, konflik yang berlarut-larut justru memberikan keuntungan bagi perusahaan energi. ExxonMobil mencatatkan laba yang dua kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, sedangkan Chevron meraih keuntungan lebih dari lima kali lipat di tengah meningkatnya harga energi secara global.

TerPopuler