AS dan Israel Siap Serang Infrastruktur Energi Iran, Trump Pertimbangkan Keputusan Akhir

AS dan Israel Siap Serang Infrastruktur Energi Iran, Trump Pertimbangkan Keputusan Akhir

Sabtu, 01 Agustus 2026, Agustus 01, 2026
AS dan Israel Siap Serang Infrastruktur Energi Iran, Trump Pertimbangkan Keputusan Akhir
Ringkasan Berita:
  • Amerika Serikat dan Israel sedang mempersiapkan serangan udara besar terhadap sistem energi penting di Iran.
  • Presiden Donald Trump belum memberikan persetujuan akhir, tetapi militer menginginkan operasi selesai sebelum pasar keuangan dibuka.
  • Tensi memuncak setelah Iran disangkakan melanggar perjanjian damai dan menyerang kapal perdagangan serta anggota militer Amerika Serikat.
  • Iran merespons dengan menyerang pangkalan udara di Kuwait menggunakan pesawat tanpa awak dan menghalangi jalur perdagangan di Selat Hormuz.
 

trimatra news -Tegangan di kawasan Timur Tengah semakin memburuk. Amerika Serikat (AS) bersama Israel dilaporkan sedang menyusun rencana serangan udara besar-besaran yang ditujukan pada berbagai infrastruktur energi penting di Iran.

Serangan ini diperkirakan akan menjadi salah satu tindakan militer yang paling provokatif dalam meningkatnya perselisihan di wilayah tersebut.

Strategi Tujuan Sebelum Pasar Keuangan Dibuka

Berdasarkan laporan dari CBS News, gelombang serangan yang mungkin terjadi diperkirakan akan berlangsung sepanjang akhir pekan. Meskipun demikian, sumber mengatakan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump hingga saat ini belum memberikan persetujuan akhir atau lampu hijau.

Terdapat tekanan taktis dari pihak militer agar operasi ini selesai sebelum pasar keuangan global kembali beroperasi pada Senin (3/8/2026).

"Kampanye ini akan menjadi salah satu yang paling keras terhadap infrastruktur energi Iran selama konflik AS-Israel melawan Iran," menurut laporan CBS, Sabtu (1/8/2026).

Tanda-tanda mengenai tindakan militer berikutnya juga semakin jelas dari Gedung Putih. Washington terus memberi tekanan kepada Teheran agar segera membuka kembali jalur penting Selat Hormuz dan mematuhi perjanjian gencatan senjata yang sebelumnya disepakati kedua belah pihak bulan lalu, meskipun perjanjian tersebut cepat berakhir.

Saling Menyalahkan Terkait Pelanggaran Perjanjian Damai

Tensi meningkat setelah Amerika Serikat menuduh Iran melanggar kesepakatan perdamaian. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap tindakan Teheran yang dianggap memicu ketegangan.

Menurut Leavitt, Iran pernah menandatangani perjanjian gencatan senjata (MoU), tetapi segera melanggarnya dengan menembak kapal dagang yang mengakibatkan kematian prajurit Amerika.

"Iran akan terus membayar sampai mereka bersedia berunding dengan cara yang dianggap bermakna oleh Presiden Trump," ujar Leavitt dalam pernyataannya pada malam Jumat, menurut laporan AP News.

Pernyataan tegas ini memperkuat sinyal bahwa Amerika Serikat tidak ragu untuk melanjutkan tindakan militer. Dalam pertemuan dengan anggota kabinet di tempat istirahat presiden Camp David, Maryland, Trump menyampaikan niatnya secara langsung.

"Kita akan menyerang mereka secara tajam," ujar Trump dalam percakapan dengan jurnalis.

Ia percaya bahwa tekanan militer yang terus-menerus akan memaksa pihak Iran akhirnya menyerah.

"Anda tahu, pada suatu waktu mereka akan mengatakan, 'Kami tidak bisa lagi menahan diri'," lanjutnya.

Respons Iran: Selat Hormuz Tegang dan Serangan Drone terhadap Kuwait

Di sisi lain, Teheran melakukan sejumlah tindakan balasan. Pasukan Garda Revolusi Iran yang bersifat paramiliter meluncurkan serangan drone ke pangkalan udara di Kuwait yang dihuni oleh pasukan Amerika Serikat, sebagai respons terhadap serangan AS sebelumnya pada hari Kamis.

Kementerian Pertahanan Kuwait mengonfirmasi bahwa pasukan bersenjata mereka berhasil menangkal dan menghancurkan drone yang memasuki wilayah udara mereka pada hari Jumat. Meskipun serangan tersebut menargetkan beberapa fasilitas militer penting dan menyebabkan kerusakan akibat pecahan peluru, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Pihak Kuwait tidak memberikan informasi pasti mengenai jumlah drone yang berhasil dijatuhkan.

Di sisi lain, kondisi di jalur perdagangan minyak global semakin memburuk. Pasukan Garda Revolusi Iran menyatakan telah menembak dua kapal tanker yang berusaha melewati Selat Hormuz, sementara media pemerintah Iran melaporkan bahwa empat kapal tanker lainnya harus kembali.

Akibat tingkat perang yang semakin meluas, jalur air utama untuk pengiriman minyak dan gas global kini hampir sepenuhnya terganggu.

(trimatra news -/Tribunnews.com)

TerPopuler