Masalah mental mengancam remaja Indonesia, ahli UGM tekankan deteksi dini

Masalah mental mengancam remaja Indonesia, ahli UGM tekankan deteksi dini

Sabtu, 01 Agustus 2026, Agustus 01, 2026

jogja.KPA NEWS -, YOGYAKARTA - Masa remajamerupakan salah satu tahap paling penting dalam siklus kehidupan manusia. Dalam proses pencarian identitas diri, remaja menghadapi berbagai tantangan yang rumit, mulai dari tekanan pendidikan, dinamika keluarga, hubungan pertemanan, hingga dampak media sosial.

Jika tidak diimbangi dengan ketahanan emosional yang cukup, tekanan tersebut berpotensi berkembang menjadi masalah kesehatan jiwa.

Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional Indonesia (I-NAMHS) pada tahun 2022 menunjukkan sekitar 15,5 juta atau 34,9 persen remaja di Indonesia menghadapi tantangan kesehatan mental. Angka ini selaras dengan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan satu dari tujuh anak berusia 10–19 tahun di dunia menderita gangguan kesehatan mental.

Menanggapi fenomena tersebut, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Rahmat Hidayat menyatakan bahwa angka sepertiga remaja tersebut merujuk pada lifetime prevalence. Artinya, seseorang pernah mengalami masalah kesehatan mental setidaknya sekali selama masa remajanya, bukan berarti semua mengalami gangguan secara bersamaan. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa angka tersebut tetap menjadi isu serius yang membutuhkan penanganan yang menyeluruh.

Rahmat menjelaskan bahwa tidak semua perubahan emosi pada remaja bisa disebut sebagai gangguan mental. Menurutnya, perubahan emosional dan krisis merupakan bagian alami dari proses tumbuh dewasa.

"Alami krisis pada tahap perkembangan adalah hal yang wajar. Keberhasilan menghadapi dan melewati krisis perkembangan itulah yang menjadi langkah menuju kedewasaan dan kematangan," kata Rahmat, Kamis (30/7).

Namun, masalah yang tidak terselesaikan dapat berkembang menjadi isu psikososial yang berlanjut hingga menyebabkan gangguan kesehatan mental.

Masalah sosial-psikologis terjadi ketika fungsi sosial seseorang mengalami gangguan akibat tekanan dari lingkungan sekitarnya.

Sementara gangguan kesehatan mental telah mengganggu fungsi psikologis dasar, seperti perasaan, kemampuan berpikir, hingga cara melihat realitas secara terus-menerus.

"Stres bukanlah masalah. Yang menjadi masalah adalah stres yang berlebihan dan terus-menerus sehingga melebihi kemampuan fisik maupun psikologis kita," tambahnya.

Dalam mengenali tanda awal, Rahmat menganggap banyak orang tua kesulitan membedakan perubahan emosi yang wajar dengan gejala gangguan jiwa. Ia menekankan pentingnya kehadiran dan memberikan ruang (space) yang aman bagi anak untuk berbicara tanpa merasa dihakimi.

Orang tua juga diharapkan waspada terhadap perubahan perilaku yang tidak biasa, seperti menyendiri di kamar selama beberapa hari, kehilangan ketertarikan pada kegiatan yang sebelumnya disukai, atau mengalami perubahan emosi dan tingkah laku yang signifikan.

"Jika tanda-tanda tersebut terlihat, komunikasi yang hangat dan bantuan dari ahli profesional sangat penting," katanya.

Mengenai wacana dan program skrining kesehatan mental di institusi pendidikan, Rahmat menganggap tindakan tersebut sebagai langkah awal yang positif. Namun, ia menyampaikan kritik bahwa skrining tidak akan berhasil jika hanya berhenti pada tahap pengenalan saja.

"Skrening efektif, tetapi tidak memadai. Hanya mengidentifikasi penyakitnya tanpa memberikan cara untuk mengobatinya itu seperti PHP saja," tegasnya.

Ia memberikan contoh pendekatan yang diterapkan di UGM, di mana hasil skrining langsung diikuti dengan pemantauan dan bimbingan oleh tenaga ahli melalui Unit Layanan Kesehatan Mental (ULKM) serta Garis Respons Darurat Kesehatan Mental. Sistem semacam ini diharapkan bisa ditiru secara luas oleh pemerintah dan lembaga pendidikan lainnya.

"Masalah kesehatan mental dalam berbagai kondisi tidak dapat dihindari. Sikap yang benar adalah menerima bahwa saya memang sedang menghadapi kesulitan dan tidak perlu merasa malu untuk mencari bantuan. Dari masalah yang ditangani dengan baik, justru akan menjadi proses perkembangan diri menjadi pribadi yang lebih dewasa," katanya.(mar3/jpnn)

TerPopuler