
KPA NEWS - CO.ID, BANDUNG -- Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pelajar dalam ruang kelas, tetapi juga sebagai penggerak perubahan bagi masyarakat dengan semangat Mahasiswa Berdampak.
Semangat tersebut menjadi pesan utama dalam Sosialisasi Mahasiswa Berdampak: Program Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (Aksara Mahasiswa) Tahun 2026 yang diadakan di Aula Utama Universitas Islam Bandung (Unisba), Sabtu (1/8/2026).
Ini juga memperkuat posisi Unisba sebagai kampus yang berdampak positif dalam mendukung munculnya berbagai program pelayanan kepada masyarakat.
Acara yang diadakan oleh Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bekerja sama dengan Unisba dihadiri sekitar 300 peserta dari 65 institusi pendidikan tinggi di Jawa Barat dan Banten.
Peserta terdiri dari dosen yang akan mengusulkan, pimpinan unit kerja di bidang kemahasiswaan, serta pengurus organisasi kemahasiswaan. Program Aksara Mahasiswa dibuat untuk mendorong mahasiswa menjadi pelaku perubahan melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas.
Dalam pelaksanaannya, dosen berfungsi sebagai pembimbing yang menghubungkan hasil penelitian universitas dengan kebutuhan masyarakat. Program ini dibuat berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dengan pendekatan yang dimulai dari masalah nyata di tengah masyarakat.
Di dalam pidatonya, Rektor Unisba, Prof Ir A Harits Nu'man, MT, Ph.D, IPU, ASEAN Eng menekankan bahwa perguruan tinggi bertanggung jawab untuk menyediakan solusi terhadap permasalahan masyarakat, bukan hanya menghasilkan ilmu pengetahuan.
Menurutnya, Unisba telah menerapkan semangat Mahasiswa Berdampak melalui berbagai kegiatan pengabdian. Salah satunya adalah program zero waste di Kecamatan Arcamanik yang melibatkan sekitar 500 mahasiswa.
Program ini dijalankan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dengan menerapkan teknologi plasma dingin dan pendekatan rekayasa sosial di 50 RW. Program ini baru saja mendapatkan pengakuan sebagai Kampus Berdampak.
Rektor berharap kerja sama antara universitas, pemerintah, dan masyarakat terus berkembang agar dapat menghasilkan lebih banyak inovasi yang diusulkan oleh mahasiswa serta memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Dr Lukman, ST, M.Hum mengungkapkan bahwa Unisba kembali dipercaya menjadi tempat pelaksanaan kegiatan Mahasiswa Berdampak untuk yang kedua kalinya.
Ia menilai hal itu mencerminkan komitmen Unisba dalam mendukung penguatan program pengabdian mahasiswa. Ia juga menyampaikan bahwa antusiasme perguruan tinggi untuk mengajukan hibah pengabdian terus meningkat setiap tahun, meskipun jumlah penerima dana mengalami penurunan.
Oleh karena itu, dia berharap terjadi peningkatan dalam alokasi dana agar semakin banyak usulan yang berkualitas bisa didanai.
Selain itu, Lukman memperkenalkan program Sorot, sebuah inisiatif yang mengabadikan KKN dan kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk film pendek. Karya terbaik dari setiap universitas akan dipilih sebelum dikirimkan ke LLDikti Wilayah IV.
Kepala Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Prof Apt I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D mengungkapkan, sosialisasi di Unisba merupakan pelaksanaan yang kedua setelah Bali. Rangkaian kegiatan berikutnya akan dilaksanakan di Semarang, Makassar, Palembang, dan Medan.
Ia menjelaskan, Program Aksara Mahasiswa lahir sebagai wadah untuk memaksimalkan kemampuan mahasiswa yang memiliki idealisme, kreativitas, dan semangat tinggi agar dapat memberikan pengaruh langsung terhadap masyarakat.
Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya bertindak sebagai pelaksana kegiatan pemberdayaan, tetapi juga berperan sebagai jembatan antara inovasi perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Program Aksara Mahasiswa memiliki dua skema utama, yaitu Aksara Peduli dan Aksara Sirkular. Aksara Peduli berfokus pada pemberdayaan masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), wilayah dengan kemiskinan ekstrem, serta daerah yang rentan terhadap bencana melalui tema pangan, energi, dan kesehatan.
Selanjutnya, Aksara Sirkular menekankan pengelolaan sampah rumah tangga sebagai bagian dari transformasi sosial, khususnya di wilayah yang memiliki TPS 3R di DKI Jakarta, Kota Bogor, Kota Bandung, dan Kota Denpasar.
Kota Bandung menjadi salah satu daerah yang menjadi fokus utama dengan jumlah universitas terbanyak kedua di tingkat nasional yang terlibat dalam program pengelolaan sampah, yaitu sebanyak 84 institusi pendidikan tinggi.
Selama kegiatan, peserta mengikuti empat sesi diskusi panel yang membahas gambaran umum Program Mahasiswa Berdampak, persyaratan pendaftaran, penyusunan proposal, serta sistem administrasi dan keuangan. Selain itu, peserta juga memiliki kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan para pembicara terkait berbagai hal dalam pengajuan program.
Penutupan sosialisasi dilakukan melalui presentasi oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Dr. Mohammad Fauzan Adziman, S.T., M.Eng.
Ia menekankan bahwa Program Mahasiswa Berdampak tidak hanya memberikan manfaat kepada masyarakat, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang membentuk karakter, kepemimpinan, dan kompetensi mahasiswa.
Menurutnya, pengalaman langsung terjun ke masyarakat akan menjadi catatan penting bagi mahasiswa, baik untuk mendapatkan beasiswa maupun memperkuat jalur karier mereka.
Ia juga menekankan bahwa banyak universitas ternama saat ini memasukkan dampak (impact), kemampuan dalam menyelesaikan masalah, serta pemanfaatan pengetahuan lokal (local knowledge) sebagai komponen penting dalam pengembangan pendidikan dan penelitian.
Oleh karena itu, ia mengajak para mahasiswa memanfaatkan Program Aksara Peduli dan Aksara Sirkular guna meningkatkan kesadaran terhadap isu-isu yang ada di masyarakat, mengeksplorasi potensi lokal, serta menyediakan solusi yang kreatif dan berkelanjutan.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk tidak takut mengalami kegagalan, terus belajar dari setiap pengalaman, serta memanfaatkan partisipasi dalam masyarakat sebagai bekal dalam membangun kepemimpinan di masa depan.