Keterbatasan Tak Halangi Pelajar Kotim Masuk Hall of Fame AS Melalui Temuan Celah Siber

Keterbatasan Tak Halangi Pelajar Kotim Masuk Hall of Fame AS Melalui Temuan Celah Siber

Minggu, 02 Agustus 2026, Agustus 02, 2026
KPA NEWS -.CO.ID, SAMPIT,– Keterbatasan akses dan fasilitas tidak mengurangi semangat mereka – Tidak adanya akses dan fasilitas tidak membuat semangat mereka pudar – Kendala dalam akses dan fasilitas tidak menghalangi semangat mereka – Keterbatasan akses dan sarana tidak mengurangi antusiasme mereka – Tidak memiliki akses dan fasilitas tidak menghentikan semangat merekaMuhammad Wildan Al Ghozali, siswa asal Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, yang berhasil menorehkan prestasi di tingkat internasional. Ia sukses memasukkan namanya dalamHall of Fame milik U.S. Department of Education(Bagian Pendidikan Amerika Serikat) berkat kontribusinya mengidentifikasi celah keamanan siber secara bertanggung jawab.

Kemenangan ini dimulai dari laporan temuan kelemahan yang ia kirimkan melalui sistem yang tersediaresponsible disclosure"Alhamdulillah, saya merasa senang dan bangga karena laporan yang saya kirim dinilai sah. Saya berharap ini dapat menjadi motivasi bahwa siswa dari daerah juga mampu mencapai prestasi hingga tingkat internasional," ujar Wildan di Sampit, Sabtu.

Siswa kelas XI MAN 1 Kotawaringin Timur mengakui ketertarikannya terhadap dunia teknologi mulai berkembang saat duduk di bangku SMP. Awalnya, ia senang bermain game di laptop, lalu tertarik mempelajari pemrograman setelah melihat kemampuan temannya. Rasa penasaran ini mendorongnya untuk belajar mandiri melalui media sosial, mesin pencari, hingga berbagai sumber di internet.

Tanpa menjadi anggota komunitas tertentu maupun memiliki mentor khusus, kemampuannya terus berkembang hingga akhirnya mampu membuka layanan pembuatan situs web sebelum akhirnya fokus pada bidang keamanan siber. Perjalanan ini membawanya mengenal dunia tersebut.bug bountyyaitu program resmi yang diadakan oleh perusahaan atau lembaga, memberikan penghargaan kepadaethical hackeratau peretas profesional yang berhasil menemukan dan mengungkap kelemahan dalam sistem mereka sebelum digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Proses Penemuan Celah Keamanan

Berdasarkan pendapat Wildan, keberhasilan mendapatkan pengakuan dari Kementerian Pendidikan Amerika Serikat dimulai ketika ia mengikuti program di platform tersebut.Bugcrowdyang menghubungkan organisasi dengan jaringan peneliti keamanan independen dari berbagai negara. “Sebelum mencari celah, saya terlebih dahulu memahami lingkup atauin-scope domainyang dapat diuji. Selanjutnya saya memanfaatkan teknikGoogle Dorkinguntuk menemukan data yang mungkin mengarah pada kelemahan, katanya.

Dari proses tersebut, ia menemukan sebuah dokumen yang berisi informasi rahasia di domain yang terkait dengan klien di Amerika Serikat. Setelah diteliti lebih lanjut, Wildan mengenali adanya kelemahan berjenisinformation disclosureatau kebocoran data. Ia menjelaskan, kelemahan semacam ini bisa memiliki dampak yang sangat serius karena memungkinkan pihak lain mengakses informasi pribadi, yang berpotensi disalahgunakan untuk manipulasi sosial (social engineering), pencurian identitas, kerugian keuangan, serta berbagai jenis kejahatan dunia maya lainnya.

Temuan tersebut kemudian disampaikan melalui prosedur yang telah ditetapkan. Setelah melalui proses verifikasi oleh pihak yang berwenang, laporan tersebut dianggap sah sehingga namanya tercantum dalam halaman Hall of Fame sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya dalam meningkatkan keamanan sistem. "Saya juga mengajukan permohonan sertifikat resmi dan saat ini masih dalam proses. Sertifikat ini akan menjadi bagian dari portofolio saya ketika nanti saya melanjutkan studi maupun berkarier di bidang keamanan siber," katanya.

Rekam Jejak dan Cita-cita

Prestasi ini bukanlah pencapaian pertamanya. Sebelumnya, Wildan sudah beberapa kali menemukan celah keamanan di berbagai situs di Indonesia, antaranya milikPemerintah Kabupaten Blitar, Detik.com, Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah, halaman PPID Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, PPID Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, hingga situs Pemerintah Kabupaten Nganjuk. Kerentanan yang ditemukan beragam, mulai dari kebocoran informasi pribadi, akses terbuka pada jalur direktori server internal,full path disclosurehingga konfigurasi sistem yang tersedia untuk umum.

Di tingkat lokal, Wildan pernah diminta untuk membantu mengecek keamanan situs web.Kementerian Agama Kotim. Dari pemeriksaan tersebut ia kembali menemukan beberapa kelemahan yang kemudian dilaporkan agar segera diperbaiki. Baginya, seorangbug hunterbukanlah peretas yang merusak sistem, tetapi pihak yang berupaya memperkuat keamanan digital dengan menemukan celah keamanan sebelum dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.

Oleh karena itu, ia selalu menekankan pentingnya menjalani seluruh proses dengan etis dan sesuai aturan. Dukungan dari keluarga menjadi salah satu faktor yang memperkuat semangatnya. Sebagai anak keempat dari delapan bersaudara, Wildan mengatakan orang tuanya yang bekerja di sektor swasta selalu memberikan dorongan, termasuk memenuhi kebutuhan belajarnya dengan membelikannya laptop. “Orang tua, guru, dan teman-teman sangat mendukung. Bahkan setelah mengetahui saya berhasil menemukan celah di situs web luar negeri, orang tua memberikan apresiasi berupa tambahan uang saku. Itu menjadi pemicu untuk terus belajar,” katanya.

Masa depan, Wildan memiliki impian untuk menjadiCybersecurity Analystdan berencana melanjutkan studi diTelkom University atau Binus University. Ia bahkan memiliki impian yang lebih besar, yaitu suatu hari dapat menemukan kelemahan pada sistem milikNASA melalui program bug bountyResmi. Ia juga mengajak generasi muda agar lebih cerdas dalam memanfaatkan teknologi dan media sosial. Menurutnya, risiko kebocoran data serta penyalahgunaan jejak digital semakin meningkat jika pengguna tidak menyadari pentingnya keamanan informasi.

"Generasi muda perlu lebih memahami teknologi, lebih waspada dalam menggunakan media sosial serta menjaga jejak digital mereka. Hal-hal kecil seperti komentar negatif atau berbagi informasi pribadi bisa menjadi pintu masuk bagi berbagai tindakan kriminal di dunia siber. Mudah-mudahan semakin banyak kalangan muda yang lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi," ujar Wildan.

Isi ini disusun dengan dukungan teknologi AI.

TerPopuler