TriMatraNews
Hari ini
TriMatraNews
▣ LIVE ▶ f ◎ 𝕏 ♪

Iklan Header

Topik Pilihan Berita utama hari ini
Memuat topik terbaru...
Berita Terbaru

Iklan Dalam Feed

Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2026

Kunci Jawaban IPAS Kelas 6 SD Kurikulum Merdeka Halaman 129: Ayo Menyimpulkan

Kunci Jawaban IPAS Kelas 6 SD Kurikulum Merdeka Halaman 129: Ayo Menyimpulkan

KPA NEWS -–Buku teks IPAS kelas 6 SD/MI K13 Revisi, halaman 129, bab 5.

Salah satu topik yang dibahas dalam buku pelajaran IPAS kelas 6 SD/MI Kurikulum Merdeka (Edisi Revisi) halaman 129, karya Fitri Amalia, dkk., terbitan Kemdikbud Ristek tahun 2025 adalah Energi untuk Masa Depan.

Kemampuan untuk melakukan pekerjaan atau mengakibatkan perubahan disebut sebagai energi. Energi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari karena memungkinkan manusia, hewan, tumbuhan, serta berbagai benda untuk menjalani aktivitas mereka.

Tanpa tenaga, lampu tidak bisa menyala, kendaraan tidak bisa berjalan, dan manusia tidak memiliki kekuatan untuk belajar, bermain, atau bekerja. Tenaga bisa diperoleh dari berbagai sumber, seperti matahari, air, angin, makanan, serta listrik.

Karena itu, energi merupakan salah satu kebutuhan pokok yang mendukung kehidupan serta berbagai aktivitas di bumi.

Pada soal latihan ini, peserta didik diminta untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan kegiatan yang terdapat di halaman tersebut.

Sebagai informasi, sebelum memeriksa kunci jawaban buku pelajaran IPAS Kelas 6 SD/MI Kurikulum Merdeka halaman 129, siswa diharapkan terlebih dahulu mencoba menjawab soal secara mandiri.

Panduan ini digunakan oleh orang tua sebagai alat untuk memeriksa tugas anak.

Jawaban Soal IPA Kelas 6 SD Kurikulum Merdeka Halaman 129 : Ayo, Menyimpulkan

Jawaban Soal IPA Kelas 6 SD Kurikulum Merdeka Halaman 129

Ayo, Menyimpulkan

Kamu telah selesai mempelajari materi mengenai energi terbarukan. Sebelum menyelesaikan, buatlah ringkasan dari apa yang telah kamu pelajari di buku tugas. Ringkasan ini bisa kamu gunakan untuk belajar kembali nanti.

1. Menyusun ringkasan Susun ringkasan dengan menjawab pertanyaan berikut:

a. Apa yang dimaksud dengan energi terbarukan?

b. Bagaimana sumber energi yang dapat diperbarui mampu menghasilkan tenaga listrik?

c. Sebutkan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai energi terbarukan!

d. Sebutkan keuntungan dari sumber energi yang dapat diperbarui!

2. Menyusun kesimpulan Susunlah kesimpulan mengenai pembelajaran di topik B dengan menjawab pertanyaan berikut: "Mengapa kita harus beralih ke sumber energi terbarukan di masa depan?"

Jawaban :

1. Rangkuman Hasil Belajar

a. Energi yang berasal dari alam dan dapat terbentuk kembali secara alami tanpa cepat habis disebut energi terbarukan. Contohnya yaitu energi matahari, angin, air, panas bumi, serta bahan organik.

b. Sumber energi terbarukan menghasilkan tenaga listrik dengan memanfaatkan kekuatan alam. Contohnya, cahaya matahari diubah menjadi listrik melalui penggunaan panel surya, air yang mengalir digunakan untuk menggerakkan turbin di PLTA, angin memutar turbin angin, serta panas bumi menghasilkan uap yang dapat menggerakkan turbin pembangkit listrik.

c. Berbagai sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan adalah:

  • Matahari
  • Angin
  • Air (sungai, bendungan, dan air jatuh)
  • Panas bumi
  • Bahan organik, seperti sisa pertanian dan kotoran hewan

d. Keuntungan dari energi terbarukan adalah:

  • Mengurangi pencemaran lingkungan.
  • Mengurangi penggunaan sumber energi fosil.
  • Sumber daya energinya sulit habis.
  • Menghasilkan energi yang lebih bersih dan ramah terhadap lingkungan.
  • Membantu melestarikan lingkungan hidup untuk masa depan.

2. Kesimpulan Mengapa kita harus beralih ke sumber energi yang dapat diperbarui di masa depan?

Kita perlu beralih ke sumber energi yang dapat diperbaharui di masa depan karena energi tersebut berasal dari alam dan bisa terus tersedia sehingga tidak akan cepat habis. Berbeda dengan energi fosil, seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam, yang jumlahnya terbatas dan bisa habis jika digunakan secara terus-menerus. Selain itu, penggunaan energi fosil menyebabkan polusi yang dapat mencemari udara, memicu pemanasan global, serta merusak lingkungan.

Sumber energi yang dapat diperbarui, seperti tenaga surya, angin, air, panas bumi, dan biomassa, lebih baik bagi lingkungan karena menghasilkan polusi yang lebih sedikit. Sumber energi ini juga bisa digunakan untuk menghasilkan listrik serta memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Indonesia memiliki banyak potensi energi terbarukan karena memiliki sinar matahari yang cukup, banyak aliran sungai, gunung berapi, pantai, serta hasil pertanian yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Dengan beralih ke sumber energi yang dapat diperbaharui, kita mampu menjaga kelestarian alam, mengurangi polusi lingkungan, serta menghemat penggunaan bahan bakar fosil. Ini juga berkontribusi dalam memastikan ketersediaan energi yang cukup untuk masa depan, sehingga anak-anak dan generasi selanjutnya tetap bisa menikmati lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman.

Oleh karena itu, sejak saat ini kita harus mendukung pemanfaatan energi terbarukan dan terbiasa menghemat penggunaan energi agar sumber daya alam tetap dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

 *) Disclaimer:

  • Artikel ini hanya ditujukan kepada para orang tua sebagai panduan dalam proses pembelajaran anak.
  • Sebelum melihat jawaban benar, siswa diharuskan terlebih dahulu menyelesaikannya sendiri, kemudian manfaatkan artikel ini untuk memeriksa hasil kerja mereka.

(KPA NEWS -/Namira)

Kunci Jawaban IPAS Kelas 6 SD Kurikulum Merdeka: Energi Alternatif di Sekitarmu

Kunci Jawaban IPAS Kelas 6 SD Kurikulum Merdeka: Energi Alternatif di Sekitarmu

KPA NEWS -–Buku pelajaran IPA dan Sosial (IPAS) kelas 6 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah berdasarkan Kurikulum Merdeka (Edisi Revisi) halaman 128 bab 5.

Salah satu topik yang dibahas dalam buku pelajaran IPAS kelas 6 SD/MI Kurikulum Merdeka (Edisi Revisi) halaman 128, karya Fitri Amalia, dkk., terbitan Kemdikbud Ristek tahun 2025 adalah Energi untuk Masa Depan.

Kemampuan untuk melakukan pekerjaan atau memicu perubahan disebut sebagai energi. Energi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari karena memungkinkan manusia, hewan, tumbuhan, serta berbagai objek menjalani aktivitas mereka.

Tanpa tenaga, lampu tidak bisa menyala, kendaraan tidak bisa berjalan, dan manusia tidak memiliki kekuatan untuk belajar, bermain, atau bekerja. Tenaga bisa diperoleh dari berbagai sumber, seperti matahari, air, angin, makanan, dan listrik.

Karena itu, energi merupakan salah satu kebutuhan pokok yang mendukung kehidupan serta berbagai aktivitas di bumi.

Pada soal latihan ini, peserta didik diminta untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan kegiatan yang terdapat di halaman tersebut.

Sebagai informasi, sebelum memeriksa kunci jawaban buku pelajaran IPAS Kelas 6 SD/MI Kurikulum Merdeka halaman 128, siswa diharapkan terlebih dahulu mencoba menjawab soal secara mandiri.

Panduan ini digunakan oleh orang tua sebagai acuan dan perbandingan dalam mengecek tugas anak.

Jawaban Soal IPA Kelas 6 SD Kurikulum Merdeka Halaman 128 : Energi Alternatif di Sekitarmu

Jawaban Soal IPA Kelas 6 SD Kurikulum Merdeka Halaman 128

Ayo, Menyelidiki

Ayo kita eksplorasi sumber energi alternatif di wilayahmu dengan cara berikut:

1. Perhatikan kondisi geografis dan sumber daya alam yang ada di provinsi atau pulau tempat tinggalmu.

2. Lihat peta untuk membantumu mengidentifikasi potensi alam yang terdapat di wilayahmu.

3. Kamu juga dapat melakukan wawancara atau pencarian di internet dengan bimbingan orang tua untuk keperluan penyelidikan ini. 4. Tuliskan hasil penyelidikanmu dalam tabel berikut. Lokasi Sumber energi alternatif Bisa dimanfaatkan untuk

5. Buatlah ringkasan dalam bentuk Infografis yang berisi data mengenai potensi energi di wilayahmu. Infografis yang kamu buat bisa berupa tulisan atau versi digital.

Jawaban :

Tabel Hasil Penyelidikan

No Lokasi Sumber Energi Alternatif Bisa Dimanfaatkan untuk
1 Dieng, Kabupaten Banjarnegara Energi panas bumi (geotermal) Menghasilkan listrik
2 Pantai Selatan Jawa Tengah Energi angin Membangkitkan listrik menggunakan turbin angin
3 Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri Energi air Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
4 Seluruh wilayah Jawa Tengah Energi matahari Seluler surya untuk menghasilkan energi listrik
5 Daerah pertanian dan peternakan Bahan organik (jerami, kotoran hewan, sampah organik) Biogas dan energi ramah lingkungan Biogas serta bahan bakar yang ramah lingkungan Bahan bakar ramah lingkungan dan biogas Energi terbarukan berupa biogas dan bahan bakar ramah lingkungan Sumber energi hijau seperti biogas dan bahan bakar ramah lingkungan

INFOGRAFIS TERTULIS

Energi Alternatif yang Tersedia di Jawa Tengah

???? Energi Matahari

???? Lokasi: Hampir seluruh area Jawa Tengah

✅ Manfaat:

  • Membuat listrik menggunakan panel surya.
  • Sumber energi yang bersifat ramah terhadap lingkungan.

???? Energi Panas Bumi (Termal)

???? Lokasi: Pegunungan Dieng, Banjarnegara dan Wonosobo

✅ Manfaat:

  • Menghasilkan listrik.
  • Mengurangi penggunaan sumber energi fosil.

???? Energi Air

???? Lokasi: Danau Gajah Mungkur, Wonogiri dan sungai-sungai besar di Jawa Tengah

✅ Manfaat:

  • Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
  • Menyediakan energi yang ramah lingkungan dan dapat dipertahankan.

???? Energi Angin

???? Lokasi: Pantai bagian selatan Jawa Tengah

✅ Manfaat:

  • Menggerakkan turbin angin.
  • Menghasilkan listrik tanpa polusi.

???? Energi Biomassa

???? Lokasi: Wilayah pertanian dan peternakan di Jawa Tengah

✅ Manfaat:

  • Diolah menjadi biogas.
  • Sebagai bahan bakar alternatif yang ramah terhadap lingkungan.

????Mengapa Energi Alternatif Penting?

  • Mengurangi pencemaran lingkungan.
  • Mengurangi penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara.
  • Menyediakan sumber energi yang bisa diperbaharui.
  • Melestarikan lingkungan hidup bagi generasi berikutnya.

???? Kesimpulan

Jawa Tengah memiliki sumber daya energi alternatif yang beragam, seperti energi matahari, panas bumi, air, angin, dan biomassa. Seluruh jenis energi ini bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik dan energi bersih, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil serta mendukung pelestarian lingkungan. ????♻️

*) Disclaimer:

  • Artikel ini hanya ditujukan kepada para orang tua sebagai panduan dalam proses pembelajaran anak.
  • Sebelum melihat jawaban benar, siswa diharuskan terlebih dahulu menyelesaikannya sendiri, kemudian manfaatkan artikel ini untuk memeriksa hasil kerja mereka.

(KPA NEWS -/Namira)

Keterbatasan Tak Halangi Pelajar Kotim Masuk Hall of Fame AS Melalui Temuan Celah Siber

KPA NEWS -.CO.ID, SAMPIT,– Keterbatasan akses dan fasilitas tidak mengurangi semangat mereka – Tidak adanya akses dan fasilitas tidak membuat semangat mereka pudar – Kendala dalam akses dan fasilitas tidak menghalangi semangat mereka – Keterbatasan akses dan sarana tidak mengurangi antusiasme mereka – Tidak memiliki akses dan fasilitas tidak menghentikan semangat merekaMuhammad Wildan Al Ghozali, siswa asal Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, yang berhasil menorehkan prestasi di tingkat internasional. Ia sukses memasukkan namanya dalamHall of Fame milik U.S. Department of Education(Bagian Pendidikan Amerika Serikat) berkat kontribusinya mengidentifikasi celah keamanan siber secara bertanggung jawab.

Kemenangan ini dimulai dari laporan temuan kelemahan yang ia kirimkan melalui sistem yang tersediaresponsible disclosure"Alhamdulillah, saya merasa senang dan bangga karena laporan yang saya kirim dinilai sah. Saya berharap ini dapat menjadi motivasi bahwa siswa dari daerah juga mampu mencapai prestasi hingga tingkat internasional," ujar Wildan di Sampit, Sabtu.

Siswa kelas XI MAN 1 Kotawaringin Timur mengakui ketertarikannya terhadap dunia teknologi mulai berkembang saat duduk di bangku SMP. Awalnya, ia senang bermain game di laptop, lalu tertarik mempelajari pemrograman setelah melihat kemampuan temannya. Rasa penasaran ini mendorongnya untuk belajar mandiri melalui media sosial, mesin pencari, hingga berbagai sumber di internet.

Tanpa menjadi anggota komunitas tertentu maupun memiliki mentor khusus, kemampuannya terus berkembang hingga akhirnya mampu membuka layanan pembuatan situs web sebelum akhirnya fokus pada bidang keamanan siber. Perjalanan ini membawanya mengenal dunia tersebut.bug bountyyaitu program resmi yang diadakan oleh perusahaan atau lembaga, memberikan penghargaan kepadaethical hackeratau peretas profesional yang berhasil menemukan dan mengungkap kelemahan dalam sistem mereka sebelum digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Proses Penemuan Celah Keamanan

Berdasarkan pendapat Wildan, keberhasilan mendapatkan pengakuan dari Kementerian Pendidikan Amerika Serikat dimulai ketika ia mengikuti program di platform tersebut.Bugcrowdyang menghubungkan organisasi dengan jaringan peneliti keamanan independen dari berbagai negara. “Sebelum mencari celah, saya terlebih dahulu memahami lingkup atauin-scope domainyang dapat diuji. Selanjutnya saya memanfaatkan teknikGoogle Dorkinguntuk menemukan data yang mungkin mengarah pada kelemahan, katanya.

Dari proses tersebut, ia menemukan sebuah dokumen yang berisi informasi rahasia di domain yang terkait dengan klien di Amerika Serikat. Setelah diteliti lebih lanjut, Wildan mengenali adanya kelemahan berjenisinformation disclosureatau kebocoran data. Ia menjelaskan, kelemahan semacam ini bisa memiliki dampak yang sangat serius karena memungkinkan pihak lain mengakses informasi pribadi, yang berpotensi disalahgunakan untuk manipulasi sosial (social engineering), pencurian identitas, kerugian keuangan, serta berbagai jenis kejahatan dunia maya lainnya.

Temuan tersebut kemudian disampaikan melalui prosedur yang telah ditetapkan. Setelah melalui proses verifikasi oleh pihak yang berwenang, laporan tersebut dianggap sah sehingga namanya tercantum dalam halaman Hall of Fame sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya dalam meningkatkan keamanan sistem. "Saya juga mengajukan permohonan sertifikat resmi dan saat ini masih dalam proses. Sertifikat ini akan menjadi bagian dari portofolio saya ketika nanti saya melanjutkan studi maupun berkarier di bidang keamanan siber," katanya.

Rekam Jejak dan Cita-cita

Prestasi ini bukanlah pencapaian pertamanya. Sebelumnya, Wildan sudah beberapa kali menemukan celah keamanan di berbagai situs di Indonesia, antaranya milikPemerintah Kabupaten Blitar, Detik.com, Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah, halaman PPID Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, PPID Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, hingga situs Pemerintah Kabupaten Nganjuk. Kerentanan yang ditemukan beragam, mulai dari kebocoran informasi pribadi, akses terbuka pada jalur direktori server internal,full path disclosurehingga konfigurasi sistem yang tersedia untuk umum.

Di tingkat lokal, Wildan pernah diminta untuk membantu mengecek keamanan situs web.Kementerian Agama Kotim. Dari pemeriksaan tersebut ia kembali menemukan beberapa kelemahan yang kemudian dilaporkan agar segera diperbaiki. Baginya, seorangbug hunterbukanlah peretas yang merusak sistem, tetapi pihak yang berupaya memperkuat keamanan digital dengan menemukan celah keamanan sebelum dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.

Oleh karena itu, ia selalu menekankan pentingnya menjalani seluruh proses dengan etis dan sesuai aturan. Dukungan dari keluarga menjadi salah satu faktor yang memperkuat semangatnya. Sebagai anak keempat dari delapan bersaudara, Wildan mengatakan orang tuanya yang bekerja di sektor swasta selalu memberikan dorongan, termasuk memenuhi kebutuhan belajarnya dengan membelikannya laptop. “Orang tua, guru, dan teman-teman sangat mendukung. Bahkan setelah mengetahui saya berhasil menemukan celah di situs web luar negeri, orang tua memberikan apresiasi berupa tambahan uang saku. Itu menjadi pemicu untuk terus belajar,” katanya.

Masa depan, Wildan memiliki impian untuk menjadiCybersecurity Analystdan berencana melanjutkan studi diTelkom University atau Binus University. Ia bahkan memiliki impian yang lebih besar, yaitu suatu hari dapat menemukan kelemahan pada sistem milikNASA melalui program bug bountyResmi. Ia juga mengajak generasi muda agar lebih cerdas dalam memanfaatkan teknologi dan media sosial. Menurutnya, risiko kebocoran data serta penyalahgunaan jejak digital semakin meningkat jika pengguna tidak menyadari pentingnya keamanan informasi.

"Generasi muda perlu lebih memahami teknologi, lebih waspada dalam menggunakan media sosial serta menjaga jejak digital mereka. Hal-hal kecil seperti komentar negatif atau berbagi informasi pribadi bisa menjadi pintu masuk bagi berbagai tindakan kriminal di dunia siber. Mudah-mudahan semakin banyak kalangan muda yang lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi," ujar Wildan.

Isi ini disusun dengan dukungan teknologi AI.

Wagub Kalteng Dorong 340 Wisudawan UMPR Jadi Wirausaha di Era AI

KPA BERITA -.CO.ID, PALANGKA RAYA,– Wakil Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng),Edy Pratowo, menekankan pentingnya perubahan, kemampuan beradaptasi, dan semangat wirausaha kepada 340 lulusanUniversitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR)Pesan ini disampaikan agar lulusan dapat menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berubah akibat perubahan digital dan kemajuan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Edy menyampaikan pesan tersebut saat hadir dalam acara Yudisium dan Wisuda Program Pascasarjana XIII serta Program Sarjana XXXVI UMPR di Palangka Raya, Sabtu. Ia menekankan bahwa perubahan berlangsung sangat cepat sehingga lulusan perguruan tinggi harus mampu beradaptasi melalui tindakan nyata dan inisiatif yang konkrit.

"Perubahan digital, kemajuan teknologi AI, serta persaingan internasional mengharuskan lulusan universitas mampu menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan," ujarnya.

Jangan Hanya Membayangkan Menjadi Pegawai Negeri

Edy Pratowo menegaskan bahwa lulusan universitas kini tidak boleh hanya mengandalkan pola pikir mencari pekerjaan, terutama dalam menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Kesempatan yang ada cukup terbatas dibandingkan jumlah lulusan tiap tahunnya.

Oleh karena itu, pemerintah provinsi mendorong lulusan untuk menjadi wirausaha yang mampu menciptakan kesempatan kerja, sekaligus memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitarnya. "Jangan hanya berpikir untuk menjadi pegawai negeri. Jadilah pengusaha yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.

Edy juga mengapresiasi kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan UMPR dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kerja sama tersebut dilakukan melalui program kuliah gratis serta pendidikan vokasi Diploma I di bidang pertanian sebagai bagian dari dukungan terhadap kebijakan pemerintah.

Pada kesempatan tersebut, ia juga menyatakan rasa terima kasih atas pelaksanaan wisuda tahun ini yang dilakukan di sebuah hotel, sehingga para lulusan dan tamu undangan dapat mengikuti acara dengan lebih nyaman meskipun kondisi kabut asap sedang melanda beberapa wilayah di Kalimantan Tengah.

Pesan Rektor dan LLDIKTI

Rektor UMPR Lektor Kepala Dr Muhamad Yusuf SSos MAPmenjelaskan bahwa dalam acara Yudisium dan Wisuda tersebut, UMPR mengeluarkan sebanyak 340 mahasiswa. Rincian terdiri dari 160 lulusan Program Pascasarjana dan 180 lulusan Program Sarjana.

Rektor UMPR menyampaikan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan mahasiswa, melainkan langkah awal menuju kehidupan dan dunia nyata yang penuh dengan persaingan tanpa batas. Oleh karena itu, ia mengajak para lulusan untuk memanfaatkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan sebagai fondasi dalam terus meningkatkan kualitas diri.

Selain kemampuan akademis, aspek utama dalam menjalani kehidupan sosial adalah kemampuan mengelola pikiran yang tangguh. Nanti dalam dunia kerja akan ada banyak tantangan yang harus dihadapi," ujarnya. Dr Yusuf juga mengingatkan para lulusan agar mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan dan situasi yang terus berkembang.

Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XI Kalimantan,Muhammad Akbar, mengajak para dosen untuk terus mengembangkan kompetensi agar mampu memberikan proses pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan pasar kerja. Ia juga memperingatkan lulusan untuk mengimplementasikan budaya ilmiah yang telah dipelajari selama menyusun skripsi maupun tesis dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, metode ilmiah mengajarkan seseorang untuk mengumpulkan data, melakukan analisis yang objektif, serta menyimpulkan berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini penting agar lulusan tidak mudah membuat keputusan atau menyebarluaskan informasi tanpa melalui proses verifikasi.

"Kesetiaan, kejujuran, dan kepercayaan harus senantiasa dipertahankan karena itulah yang akan menciptakan keyakinan masyarakat terhadap para lulusan," katanya.

Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan yang berada di bawah naungan Pimpinan Pusat Muhammadiyah,Moh. Mudzakkir, menyatakan gelar sarjana sebagai modal simbolis yang menunjukkan seseorang memiliki kemampuan akademik dan intelektual. Namun, menurutnya, penghargaan sebenarnya akan diperoleh jika lulusan mampu memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat sesuai bidang keahlian mereka. Ia juga mengajak para alumni menjaga modal sosial yang dimiliki dengan tetap memegang teguh nilai kejujuran dan menjadi pribadi yang dapat dipercaya.

Isi ini disusun dengan dukungan teknologi AI.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Mahasiswa Undip Ajak Warga Cegah Stunting dengan Masak Pangan Lokal

Mahasiswa Undip Ajak Warga Cegah Stunting dengan Masak Pangan Lokal

KPA NEWS -, SEMARANG- Mahasiswa Program KKN Tematik (KKNT) IDBU Tim 18 Universitas Diponegoro (Undip) menyelenggarakan rangkaian kegiatan edukasi gizi dan pelatihan pengolahan makanan lokal di Desa Ketro, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan.

Program ini bertujuan untuk mendukung pencegahan stunting, peningkatan ketersediaan pangan di rumah tangga, serta pengembangan potensi ekonomi berdasarkan komoditas lokal.

Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan KKNT SDGs Center Universitas Diponegoro yang bekerja sama dengan Bappeda Provinsi Jawa Tengah dalam mendukung pengembangan desa berdasarkan kebutuhan masyarakat serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Tim 18 KKNT IDBU berada di bawah bimbingan Prof. Bulan Prabawani, S.Sos., M.M., Ph.D., Yoga Pratama, Ph.D., Ardy Wibowo, Ph.D., dan Swastika Dewi, M.Sc. Pendekatan lintas disiplin digunakan dengan menggabungkan aspek kesehatan, gizi, teknologi pangan, komunikasi, serta pengembangan usaha.

Rangkaian kegiatan dimulai pada 9 dan 10 Juli 2026 dengan melalui penyuluhan gizi di Posyandu Dusun Gedad dan Posyandu Dusun Larangan. Kegiatan ini ditujukan kepada ibu hamil dan ibu yang memiliki anak balita, dengan topik pembahasan tentang gizi seimbang, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak, pencegahan stunting, serta penerapan Lima Kunci Keamanan Pangan.

Pendidikan dilaksanakan bersamaan dengan layanan rutin Posyandu, seperti pengukuran berat badan, pemantauan pertumbuhan, dan pemberian makanan tambahan. Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa berkomunikasi langsung dengan peserta selama proses pelayanan berlangsung.

Kerja sama antara mahasiswa, anggota Posyandu, dan petugas kesehatan diharapkan mampu memperkuat peran keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemantauan pertumbuhan secara rutin.

Selain itu, mahasiswa Universitas Diponegoro mengadakan kelas masak pembuatan mi dari bahan dasar jagung bersama kelompok PKK Desa Ketro.

Peserta diberikan penjelasan tentang pemilihan bahan, cara membuat adonan, metode pengolahan, serta pengalaman langsung dalam menghasilkan mi jagung.

Pemilihan jagung didasarkan pada ketersediaannya sebagai salah satu komoditas lokal yang selama ini belum banyak dimanfaatkan untuk menghasilkan produk pangan dengan nilai tambah.

"Jagung yang biasanya lebih sering digunakan sebagai pakan ternak ternyata bisa diolah menjadi mi. Hal ini bisa menjadi pilihan produk yang dapat dikembangkan oleh para ibu," kata salah satu peserta dalam rilis yang diterima KPA NEWS, Sabtu (1/8/2026) malam.

Pelatihan tidak hanya memperkenalkan berbagai jenis pangan lokal, tetapi juga memberikan kesempatan untuk mengembangkan usaha keluarga dengan memproses jagung menjadi produk yang lebih kreatif dan bernilai jual tinggi.

Kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan brownies yang lembut dan berbahan dasar pisang di Balai Desa Ketro. Peserta terdiri dari ibu hamil, ibu dengan anak balita, kader Posyandu, perangkat desa, serta tenaga medis.

Sebelum praktik dimulai, para mahasiswa menyampaikan materi tentang kebersihan diri, kebersihan alat, keamanan bahan makanan, serta penggunaan oven dengan benar. Peserta selanjutnya melakukan praktik pembuatan brownies mulai dari pengolahan bahan hingga proses pengemasan produk.

"Kami tidak hanya mempelajari cara membuat brownies, tetapi juga mengerti bagaimana menggunakan oven, menyetel suhu, serta menjaga kebersihan selama proses pembuatan," kata salah satu peserta.

Setiap peserta mengambil pulang produk hasil praktik sebagai contoh nyata pemanfaatan pisang lokal menjadi makanan olahan yang bisa dikembangkan untuk digunakan dalam keluarga atau usaha skala rumah tangga.

Serangkaian kegiatan menunjukkan bahwa penanganan masalah gizi tidak hanya terkait dengan peningkatan pemahaman, tetapi juga dengan kemampuan keluarga dalam memproses sumber pangan yang ada di sekitar mereka.

Melalui program edukasi nutrisi dan kelas memasak, mahasiswa KKNT IDBU Tim 18 menghubungkan tiga elemen penting, yaitu kecukupan gizi keluarga, keamanan bahan pangan, serta peningkatan nilai komoditas lokal. Pendekatan ini diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. (*)

Program Aksara Mahasiswa 2026 Diluncurkan di Unisba

KPA NEWS - CO.ID, BANDUNG -- Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pelajar dalam ruang kelas, tetapi juga sebagai penggerak perubahan bagi masyarakat dengan semangat Mahasiswa Berdampak.

Semangat tersebut menjadi pesan utama dalam Sosialisasi Mahasiswa Berdampak: Program Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (Aksara Mahasiswa) Tahun 2026 yang diadakan di Aula Utama Universitas Islam Bandung (Unisba), Sabtu (1/8/2026).

Ini juga memperkuat posisi Unisba sebagai kampus yang berdampak positif dalam mendukung munculnya berbagai program pelayanan kepada masyarakat.

Acara yang diadakan oleh Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bekerja sama dengan Unisba dihadiri sekitar 300 peserta dari 65 institusi pendidikan tinggi di Jawa Barat dan Banten.

Peserta terdiri dari dosen yang akan mengusulkan, pimpinan unit kerja di bidang kemahasiswaan, serta pengurus organisasi kemahasiswaan. Program Aksara Mahasiswa dibuat untuk mendorong mahasiswa menjadi pelaku perubahan melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas.

Dalam pelaksanaannya, dosen berfungsi sebagai pembimbing yang menghubungkan hasil penelitian universitas dengan kebutuhan masyarakat. Program ini dibuat berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dengan pendekatan yang dimulai dari masalah nyata di tengah masyarakat.

Di dalam pidatonya, Rektor Unisba, Prof Ir A Harits Nu'man, MT, Ph.D, IPU, ASEAN Eng menekankan bahwa perguruan tinggi bertanggung jawab untuk menyediakan solusi terhadap permasalahan masyarakat, bukan hanya menghasilkan ilmu pengetahuan.

Menurutnya, Unisba telah menerapkan semangat Mahasiswa Berdampak melalui berbagai kegiatan pengabdian. Salah satunya adalah program zero waste di Kecamatan Arcamanik yang melibatkan sekitar 500 mahasiswa.

Program ini dijalankan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dengan menerapkan teknologi plasma dingin dan pendekatan rekayasa sosial di 50 RW. Program ini baru saja mendapatkan pengakuan sebagai Kampus Berdampak.

Rektor berharap kerja sama antara universitas, pemerintah, dan masyarakat terus berkembang agar dapat menghasilkan lebih banyak inovasi yang diusulkan oleh mahasiswa serta memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Dr Lukman, ST, M.Hum mengungkapkan bahwa Unisba kembali dipercaya menjadi tempat pelaksanaan kegiatan Mahasiswa Berdampak untuk yang kedua kalinya.

Ia menilai hal itu mencerminkan komitmen Unisba dalam mendukung penguatan program pengabdian mahasiswa. Ia juga menyampaikan bahwa antusiasme perguruan tinggi untuk mengajukan hibah pengabdian terus meningkat setiap tahun, meskipun jumlah penerima dana mengalami penurunan.

Oleh karena itu, dia berharap terjadi peningkatan dalam alokasi dana agar semakin banyak usulan yang berkualitas bisa didanai.

Selain itu, Lukman memperkenalkan program Sorot, sebuah inisiatif yang mengabadikan KKN dan kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk film pendek. Karya terbaik dari setiap universitas akan dipilih sebelum dikirimkan ke LLDikti Wilayah IV.

Kepala Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Prof Apt I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D mengungkapkan, sosialisasi di Unisba merupakan pelaksanaan yang kedua setelah Bali. Rangkaian kegiatan berikutnya akan dilaksanakan di Semarang, Makassar, Palembang, dan Medan.

Ia menjelaskan, Program Aksara Mahasiswa lahir sebagai wadah untuk memaksimalkan kemampuan mahasiswa yang memiliki idealisme, kreativitas, dan semangat tinggi agar dapat memberikan pengaruh langsung terhadap masyarakat.

Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya bertindak sebagai pelaksana kegiatan pemberdayaan, tetapi juga berperan sebagai jembatan antara inovasi perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.

Program Aksara Mahasiswa memiliki dua skema utama, yaitu Aksara Peduli dan Aksara Sirkular. Aksara Peduli berfokus pada pemberdayaan masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), wilayah dengan kemiskinan ekstrem, serta daerah yang rentan terhadap bencana melalui tema pangan, energi, dan kesehatan.

Selanjutnya, Aksara Sirkular menekankan pengelolaan sampah rumah tangga sebagai bagian dari transformasi sosial, khususnya di wilayah yang memiliki TPS 3R di DKI Jakarta, Kota Bogor, Kota Bandung, dan Kota Denpasar.

Kota Bandung menjadi salah satu daerah yang menjadi fokus utama dengan jumlah universitas terbanyak kedua di tingkat nasional yang terlibat dalam program pengelolaan sampah, yaitu sebanyak 84 institusi pendidikan tinggi.

Selama kegiatan, peserta mengikuti empat sesi diskusi panel yang membahas gambaran umum Program Mahasiswa Berdampak, persyaratan pendaftaran, penyusunan proposal, serta sistem administrasi dan keuangan. Selain itu, peserta juga memiliki kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan para pembicara terkait berbagai hal dalam pengajuan program.

Penutupan sosialisasi dilakukan melalui presentasi oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Dr. Mohammad Fauzan Adziman, S.T., M.Eng.

Ia menekankan bahwa Program Mahasiswa Berdampak tidak hanya memberikan manfaat kepada masyarakat, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang membentuk karakter, kepemimpinan, dan kompetensi mahasiswa.

Menurutnya, pengalaman langsung terjun ke masyarakat akan menjadi catatan penting bagi mahasiswa, baik untuk mendapatkan beasiswa maupun memperkuat jalur karier mereka.

Ia juga menekankan bahwa banyak universitas ternama saat ini memasukkan dampak (impact), kemampuan dalam menyelesaikan masalah, serta pemanfaatan pengetahuan lokal (local knowledge) sebagai komponen penting dalam pengembangan pendidikan dan penelitian.

Oleh karena itu, ia mengajak para mahasiswa memanfaatkan Program Aksara Peduli dan Aksara Sirkular guna meningkatkan kesadaran terhadap isu-isu yang ada di masyarakat, mengeksplorasi potensi lokal, serta menyediakan solusi yang kreatif dan berkelanjutan.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk tidak takut mengalami kegagalan, terus belajar dari setiap pengalaman, serta memanfaatkan partisipasi dalam masyarakat sebagai bekal dalam membangun kepemimpinan di masa depan.

Sekolah Jakarta Selatan Juara Asia dalam Pendidikan Berdampak

KPA NEWS -.CO.ID,JAKARTA — Kualitas akademik bukan lagi satu-satunya parameter yang digunakan untuk menilai keberhasilan sebuah sekolah. Institusi pendidikan kini semakin dihargai berdasarkan dampak positif yang mampu mereka berikan kepada masyarakat dan lingkungan sekitar.

Perhatian yang semakin meningkat terhadap pendidikan yang berbasis tujuan dan dampak tersebut terlihat dalamPenghargaan Brands For Good 2026sebuah even yang menghargai organisasi yang mampu menghasilkan dampak sosial dan lingkungan yang nyata, sesuai dengan keunggulan institusi tersebut.

Perubahan perspektif tersebut turut menjadi dasar penyelenggaraanPenghargaan Brands For Good 2026 yang bekerjasama dengan Pusat Kontes Keterampilan Internasional Singapura (SIMCC) dan Universitas Sosial dan Kepemimpinan Singapura (SUSS).

Acara tersebut kini menghadirkan kategori terbaru, yaituEDU FOR GOODyang memberikan penghargaan kepada sekolah yang memiliki komitmen kuat dalam menyediakan pendidikan berkualitas yang melebihi hasil akademik dan menghasilkan dampak langsung serta berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan.

Penilaian dalam Brands For Good Awardsmeliputi berbagai aspek, seperti kepemimpinan, keunggulan organisasi, dampak dari merek, serta kontribusi sosial dan lingkungan. Tahun ini, acara ini diikuti oleh sekitar 110 merek dari lebih dari 25 negara dan berakhir dengan malam penghargaan yang bertema “Together For Good” di D’Marquee @Downtown East, Singapura.

Sekolah yang berada di Jalan Iskandar Muda, Jakarta Selatan, yaitu BINUS SCHOOL Simprug, meraih penghargaan Champion di kategori EDU FOR GOOD.Aaron Wise, Kepala Sekolah BINUS SCHOOL Simprug, menyampaikan bahwa gelar tersebut bukanhanya sebuah penghargaan. Pengakuan ini memperkuat komitmen BINUS SCHOOL Simprug dalam mendidik siswa agar tidak hanya berprestasi, tetapi juga mampu memberikan dampak positif terhadap lingkungan sekitarnya, melalui keterangan tertulis, Sabtu (1/8/2026).

Menurutnya, komitmen ini mulai ditanamkan sejak jenjang Primary Years Programme (PYP), ketika siswa belajar menghubungkan proses pencarian (inquiry) dengan tindakan yang bertanggung jawab (responsible action. Nilai ini terus berkembang melalui berbagai inisiatif yang dipimpin oleh siswa, diwujudkan oleh para alumni dalam kehidupan profesional maupun kegiatan sosial, serta diperkuat oleh komunitas orang tua yang berbagi pengetahuan dan keterampilan untuk memperkaya proses pembelajaran di luar kelas.

Dengan pendekatan ini, kata Aaron, BINUS SCHOOL Simprug melihat pendidikan tidak diukur dari besarnya donasi atau banyaknya kegiatan yang dilakukan, tetapi dari kemampuannya membentuk individu yang mampu mengubah empati menjadi tindakan nyata serta menciptakan perubahan positif yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Beberapa program tersebut antara lain perangkat bantu bagi penyandang disabilitas penglihatan yang diberi nama NAVCANE, yang dikembangkan oleh seorang pelajar. Perangkat ini terpilih dalam IB Global Youth Action Fund, menunjukkan bagaimana inisiatif siswa bisa berkembang dari pembelajaran di kelas menjadi solusi yang berpotensi memenuhi kebutuhan nyata masyarakat.

Program lainnya adalah PYPX, di mana selama 25 minggu, siswa kelas 5 bekerja dalam sembilan kelompok untuk meneliti berbagai masalah nyata, mulai dari kemiskinan dan perumahan, deforestasi, sampah makanan, energi bersih, hingga pencemaran laut.

Hasil penelitian tersebut selanjutnya diwujudkan dalam berbagai proyek, seperti mengajar bahasa Inggris kepada siswa dari komunitas yang memiliki akses pendidikan terbatas, membangun stasiun pengisian daya berbasis tenaga surya, menanam sayuran serta mengolah limbah makanan menjadi pupuk kompos, serta melakukan penanaman pohon dan mangrove.

Melaui PYPX, siswa menyadari bahwa dampak yang berarti harus dimulai dengan pemahaman mendalam terhadap suatu masalah sebelum mereka merancang respons yang bertanggung jawab.

Aaron menyatakan, inisiatif-inisiatif tersebut menunjukkan keyakinan BINUS SCHOOL Simprug bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada prestasi akademik. Keberhasilan juga dinilai dari kemampuan sekolah dalam membentuk generasi muda yang memiliki rasa empati, keterampilan, dan wawasan internasional, serta mampu mengubah perasaan peduli menjadi tindakan berdasarkan pemahaman dan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

"Meraih gelar Champion dalam Brands For Good Awards 2026 mendorong kami untuk terus berkolaborasi dengan siswa, guru, orang tua, dan alumni dalam menciptakan dampak yang signifikan dan berkelanjutan. Di BINUS SCHOOL Simprug, kami yakin bahwa pendidikan tidak hanya tentang keunggulan akademik, melainkan juga membentuk pemimpin masa depan yang tidak hanya memiliki rasa empati terhadap masyarakat dan lingkungan, tetapi juga dilengkapi dengan pengetahuan, rasa percaya diri, serta kemampuan untuk mengubah kepedulian tersebut menjadi tindakan nyata dan perubahan positif di mana pun mereka berada," kata Aaron. "Kemenangan sebagai Champion dalam Brands For Good Awards 2026 memotivasi kami untuk terus bekerja sama dengan siswa, guru, orang tua, dan alumni dalam menciptakan dampak yang bermakna dan berkelanjutan. Di BINUS SCHOOL Simprug, kami meyakini bahwa pendidikan melampaui prestasi akademis, karena pendidikan bertujuan untuk membentuk pemimpin masa depan yang tidak hanya memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan, tetapi juga memiliki pengetahuan, kepercayaan diri, serta keterampilan untuk mewujudkan kepedulian tersebut menjadi tindakan nyata dan perubahan positif di tempat-tempat mereka berada," ujar Aaron. "Penghargaan Champion di Brands For Good Awards 2026 mendorong kami untuk terus bermitra dengan siswa, guru, orang tua, dan alumni dalam menciptakan dampak yang berkelanjutan dan bermakna. Di BINUS SCHOOL Simprug, kami percaya bahwa pendidikan bukan hanya tentang keunggulan akademik, melainkan juga tentang membentuk pemimpin masa depan yang tidak hanya memiliki kesadaran terhadap masyarakat dan lingkungan, tetapi juga diberikan wawasan, keyakinan diri, serta kemampuan untuk mengubah kepedulian tersebut menjadi tindakan nyata dan perubahan positif di mana saja mereka berada," jelas Aaron.

Belum Punya Gedung, Angkatan Kedua SRMA 18 Blora Sementara Ditempatkan di Rembang

Belum Punya Gedung, Angkatan Kedua SRMA 18 Blora Sementara Ditempatkan di Rembang

KPA NEWS -, BLORA- Berbeda dengan angkatan pertama tahun lalu. Tahun ini, siswa baru angkatan kedua Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 18 Blora yang akan memulai tahun ajaran 2026/2027, masih belum dapat mengisi gedung sekolah SRMA 18 Blora yang berada di Cepu.

Karena proses pembangunan gedung belum selesai, maka sementara waktu akan ditempatkan di Gedung Sekolah Rakyat di Kabupaten Rembang.

Hal ini diungkapkan oleh Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, saat melepas keberangkatan 30 siswa baru SRMA 18 Blora dari halaman Kantor Bupati pada hari Jumat (31/7/2026).

"Ya, hari ini kita mengirimkan 30 siswa baru, baik laki-laki maupun perempuan, yang akan menjadi siswa SRMA 18 Blora. Hanya saja karena pembangunan gedung sekolah belum selesai, sehingga sementara ini mereka akan menempati gedung di SR Rembang. Nanti setelah pembangunan selesai, akan kita pindahkan kembali ke Blora, yang berada di Kecamatan Cepu," kata Bupati.

Bupati Arief pada kesempatan ini juga memberikan ucapan selamat dan semangat kepada 30 siswa-siswi yang terpilih. Semua berasal dari keluarga tidak mampu, beberapa di antaranya adalah yatim atau piatu. Ia mengajak mereka tetap percaya diri dan bersemangat dalam meraih masa depan yang lebih baik melalui SRMA 18 Blora.

"Sekolah Rakyat adalah bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Program ini membawa harapan baru agar setiap anak Indonesia memiliki peluang untuk berkembang, mencapai impian, serta menjadi generasi yang unggul dan berintegritas," ujar Bupati.

"Selamat kepada seluruh siswa baru yang telah diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027. Ini merupakan amanah dan kepercayaan yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Tidak semua anak memiliki kesempatan seperti yang diterima oleh anak-anakku hari ini. Oleh karena itu, bersyukurlah atas kesempatan ini dengan belajar secara sungguh-sungguh, menjaga kedisiplinan, menghormati guru, mematuhi segala peraturan sekolah, serta terus mengembangkan potensi diri," tambahnya.

Di Sekolah Rakyat, menurut Bupati Arief, seluruhnya akan diatur dalam asrama dan memiliki aturan disiplin yang ketat. Oleh karena itu, ia meminta anak-anak tidak kaget dan bersikap serius.

"Mungkin ini akan menjadi sekolah asrama pertama bagi kalian. Namun jangan khawatir, semua layanan gratis dan terjamin. Orang tua tetap dapat mengunjungi dengan mematuhi aturan yang berlaku. Fokuslah pada belajar, mohon doa restu dari orang tua dan jangan lupa untuk mendoakan kebugaran mereka selalu. Begitu pula bagi orang tua yang sudah meninggal, semoga mendapat husnul khotimah melalui doa anak-anak yang sholeh dan sholehah. Nanti bagi siswa muslim akan diwajibkan menjalankan sholat jamaah lima waktu, ngaji dan kegiatan lainnya," ujar Bupati.

"Saya melihat di depan saya adalah calon Bupati, dokter, guru, perawat, insinyur, pengusaha, anggota TNI dan Polri, pegawai negeri sipil, serta profesi-profesi lain yang memberikan kontribusi besar bagi masyarakat. Keberhasilan kalian nanti tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga kebanggaan orang tua yang selama ini telah berjuang demi masa depan kalian. Saya berharap pendidikan yang kalian terima menjadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, menaikkan derajat orang tua, serta memutus siklus kemiskinan melalui pendidikan," tambah Bupati.

Meskipun sementara belajar di Kabupaten Rembang, Bupati berharap agar anak-anak tidak pernah merasa jauh dari rumah. Pemerintah Kabupaten Blora akan terus memberikan perhatian dan dukungan agar kalian dapat belajar dengan nyaman dan mendapatkan pendidikan yang terbaik.

"Kami juga berkomitmen penuh dalam memantau pembangunan Sekolah Rakyat yang berada di Kabupaten Blora. InshaAllah, jika proses pembangunan selesai, anak-anak Blora nantinya bisa belajar di sekolah yang berada di kampung halamannya sendiri dengan fasilitas yang lengkap, nyaman, dan mampu menghasilkan generasi unggul yang siap menghadapi tantangan masa depan. Bukan hanya 30 setiap angkatan, kami akan terus mengajukan agar kuotanya dapat ditingkatkan oleh pemerintah pusat," kata Bupati.

Bupati Arief juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Pusat yang telah menyelenggarakan Program Sekolah Rakyat sebagai salah satu langkah untuk memperluas kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu.

"Kepada para orang tua dan wali siswa, saya berharap tetap memberikan dukungan, doa, serta perhatian kepada anak-anak selama mereka menjalani proses pendidikan. Keberhasilan dalam pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sekolah, tetapi juga oleh dukungan dari keluarga," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial P3A Blora, Luluk Kusuma Agung Ariyadi AP, bersama Kepala SRMA 18 Blora, Tri Yuli Setyoningrum M.Pd., mengungkapkan bahwa yang disimpan di Rembang hanya siswa baru dari angkatan 2026/2027.

"Hanya siswa baru angkatan tahun ini yang dititipkan. Sementara siswa angkatan tahun lalu, kini sudah duduk di kelas XI dan masih berada di gedung lama di Cepu. Nanti, ketika gedung baru selesai dibangun, angkatan kedua akan dipindahkan dari Rembang dan dikumpulkan di Cepu. Untuk sementara, mereka akan dititipkan di SR Rembang yang ada di Sulang. Lokasinya dekat dengan Blora," kata Luluk.

Setelah apel pemberangkatan, para siswa baru secara bergantian berjabat tangan dengan Bupati dan jajaran, kemudian berfoto bersama. Selanjutnya, satu per satu mereka naik ke bus yang akan membawa mereka ke Sulang Rembang. Tidak pergi sendirian, setiap siswa juga didampingi oleh anggota keluarganya.

Sementara itu, Qoti Tohili Kadu, salah seorang siswa baru lulusan SMP Negeri 2 Doplang, Kecamatan Jati, merasa bahagia dapat diterima di sekolah SRMA 18 Blora.

"Perasaannya senang karena diterima. Bisa sekolah secara gratis yang didanai oleh negara. Terima kasih Pak Bupati dan Pak Presiden, saya bisa melanjutkan pendidikan," katanya singkat.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Muhammad Matohir, warga Desa Kedungsatriyan, Kecamatan Ngawen, yang berhasil diterima sebagai siswa SRMA 18 Blora. Siswa yang berasal dari pasangan orang tua dengan kondisi disabilitas ini merasa bersyukur bisa masuk ke sekolah rakyat.

"Alhamdulillah bahagia. Dengan diterimanya saya ini, bisa mengurangi beban orang tua, membuat mereka bangga. Semoga bisa merasa nyaman dan berprestasi," kata Matohir, lulusan SMPN 4 Ngawen ini.

Selain itu, Kepala Desa Bangsri, Kecamatan Jepon, Laga Kusuma, yang hadir untuk mengantarkan salah satu warganya juga bersyukur karena ada anaknya yang diterima di SRMA 18 Blora.

"Saya mengantar adik Siti Nur Indah, warga kami dari Desa Bangsri yang lulus SRMA. Ia adalah lulusan SMPN 2 Jepon. Memang kondisi ekonomi keluarganya kurang mampu, sehingga sangat terbantu dengan program ini," katanya.

Pemindahan siswa baru ke Sekolah Rakyat di Rembang dilakukan dengan menggunakan 2 unit bus. Setelah dilepas oleh Bupati, mereka langsung dibawa oleh Dinas Sosial P3A serta para pendamping masing-masing.(Iqs)

Opini: Menghadapi Dosen yang Menyulitkan

Opini: Menghadapi Dosen yang Menyulitkan

Oleh: Tans Feliks

Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur.

trimatra news -Insiden Jessica Sofia Tunardjo (JST), mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Undana, yang mengalami sakit akibat ujian skripsinya dibatalkan sebanyak 12 kali (Pos Kupang, “Jessica Alami Tekanan Psikis,” 31 Juli, 2028, hal. 1 dan 7), menunjukkan bahwa hubungan akademis antara dosen dan mahasiswa tidak selalu berjalan lancar.

Hubungan yang tidak harmonis, tentu, tidak selalu disebabkan oleh tindakan dosen atau sebaliknya.

Dengan demikian, dalam kasus JST bersama dosen tersebut, kita belum tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Sampai saat ini.

Hasil pengawasan objektif pimpinan Undana, sebagaimana dimuat dalam berita utama Pos Kupang, akan diumumkan kepada masyarakat.

Pada waktu itu, nanti, kita akan tahu dengan jelas posisi masalahnya. Sambil menunggu hal tersebut, saat ini kita berharap dan berdoa agar JST segera pulih dan dapat diuji.

Dalam rangkaian gagasan tersebut, tulisan ini tentu bukan dimaksudkan untuk menyalahkan dosen JST. Tidak. Sama sekali tidak.

Pengalaman panjang penulis sebagai guru besar sejak tahun 1988 menunjukkan bahwa banyak dosen dengan pendekatan masing-masing, dalam keterbatasan mereka, bahkan telah berkontribusi penuh dalam menghasilkan banyak individu yang bermanfaat bagi negara ini. Di berbagai bidang.

Winston Rondo, seorang tokoh dan politisi ternama NTT, setuju dengan gagasan tersebut. "Mayoritas dosen kita, katanya, telah bekerja dengan sangat baik dan menunjukkan dedikasi yang tinggi serta menghasilkan lulusan yang berkualitas." (Dalam Pos Kupang, 31 Juli 2026, hal. 7. "Jangan Ada Kesewenangan Akademik," hal. 1 dan 7).

Meskipun demikian, pengalaman kami juga menunjukkan bahwa selama proses pendidikan yang panjang seorang mahasiswa, terdapat juga dosen atau, lebih tepatnya, disebut sebagai oknum dosen, yaitu individu-individu tertentu, yang sesekali mempersulit para mahasiswanya.

Bagi para mahasiswa, mereka adalah ahli: segala sesuatu (yang dibuat) sulit. Mereka inilah yang saya sebut di atas sebagai Londo Ireng (Bahasa Jawa): Belanda hitam.

Mengapa disebut Londo Ireng? Istilah ini awalnya digunakan oleh orang Jawa untuk mengacu pada pasukan Belanda yang direkrut dari Afrika Barat.

Belanda memerlukan mereka untuk bertempur, khususnya di Aceh. Orang setempat menyebut orang Afrika itu sebagai orang Belanda. Karena mereka bekerja untuk Belanda, tetapi mereka disebut hitam karena warna kulit mereka.

Kata tersebut kembali diangkat oleh Presiden Prabowo Subianto saat menyampaikan pidato dalam perayaan HUT Partai Kebangkitan Bangsa, pada tanggal 23 Juli lalu.

Dalam pidatonya, Presiden menyebut Londo Ireng sebagai seorang warga Indonesia yang kritis terhadap pemerintahnya, namun tindakan mereka bertujuan untuk melindungi kepentingan asing dan mengabaikan kepentingan negara sendiri.

Dalam konteks tersebut, jelas saja, dosen Londo Ireng, di Undana maupun di tempat lain di negeri ini, sebenarnya tidak ada: tidak ada dosen kami yang mengkritik kebijakan makanan bergizi gratis, misalnya, karena setia kepada negara asing.

Tidak ada. Jika ada yang mengkritik pemerintah, itu, menurut saya, murni demi kebaikan negara ini.

Namun, kata-kata, kita tahu, tidak selalu memiliki makna yang tetap.  Maknanya dapat berubah seiring waktu.  Tidak pernah bersifat abadi (Lihat Marianne Josgensen dan Louise Phillips.  2002.  Discourse Analysis as Theory and Method.  London: Sage Publication).

Dalam konteks tersebut, penggunaan frasa "dosen Londo Ireng" tampaknya dapat diterima, yaitu dosen yang memiliki mentalitas "penjajah": menciptakan kondisi yang menyulitkan mahasiswa.

Menghadapi mereka, dosen Londo Ireng tersebut, semua terasa sulit bagi para mahasiswa, sebagaimana yang saya sampaikan di atas.

Kolom "Salam", Tajuk Rencana, Harian Pos Kupang (31 Juli 2026, hal. 2), dengan topik, "Undana, Mahasiswa dan Oknum Dosen," mengakui kehadiran dosen seperti itu.

Di dalam kolom tersebut, Pos Kupang menyampaikan, “Kasus Jessica sebenarnya merupakan salah satu dari banyak kejadian yang terjadi antara dosen dan mahasiswa.  Apa yang menariknya masih saja ada beberapa dosen yang sering menghambat para mahasiswa, khususnya dalam tugas akhir.  Dan, hal ini sudah menjadi rahasia umum yang telah berlangsung lama” (teks miring dari penulis).

Agar tidak terkena kerugian akibat oknum dosen Londo Ireng seperti itu, menurut saya mahasiswa segera harus mengambil tindakan nyata, misalnya dengan meminta kepada koordinator program studi (Koprodi) untuk mengganti pembimbing penulisan skripsinya, jika itu masalahnya.

Jika tidak diperbolehkan oleh Koprodi karena alasan tertentu, jangan berhenti di situ. Sampaikan masalahnya kepada dekan atau rektor atau pihak lain yang berkaitan. Siapa pun. Bahkan, organisasi apa pun.

Agar tidak merasa stres sendiri dan masalahnya dapat selesai. Secara anggun. Berjuang tanpa menyerah, tetapi tentu saja tanpa kekerasan: Ahimsa seperti yang dikenalkan oleh Mahatma Gandhi yang terkenal itu.

Selain itu, tindakan lainnya, sebelum isu tersebut menjadi viral, juga harus dilakukan sesuai dengan perkembangan zaman yang sangat pesat saat ini.

Sebagai contoh, mahasiswa dapat menulis dan mengirimkan usulan apa pun melalui WhatsApp atau aplikasi lain yang sesuai kepada dosen atau pimpinan. Menurut saya, dosen atau pimpinan yang baik pasti akan segera memberikan respons terhadapnya.

Jika tidak ingin menggunakan aplikasi seperti WhatsApp, mungkin lebih baik menyampaikan saran melalui kotak saran.

Di tempat tersebut, pesan dapat ditulis dan kritik dapat disampaikan tanpa menyebutkan nama pengirim pesan atau pengkritik.

Oleh karena itu, kotak masukan harus disediakan oleh pimpinan di setiap sudut kampus, sehingga setiap mahasiswa dapat mengirimkan saran atau kritik kapan saja. Untuk melakukan hal tersebut, memang mahasiswa perlu memiliki keberanian.

Namun mengapa merasa takut terhadap sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan keluarga, serta pada akhirnya juga bermanfaat bagi bangsa?

Ajaran leluhur kita, yaitu berani karena benar, takut karena salah, menurut saya, dapat menjadi pedoman dalam perjuangan yang, baik sadar atau tidak, memiliki dampak besar terhadap orang lain, sekarang dan kelak. Setidaknya peristiwa serupa yang melibatkan mahasiswa tidak akan terulang lagi.

Ini penting karena ada kasus yang berujung pada kerugian bagi mahasiswa, seperti meninggalkan studi (DO), pernah terjadi. Lebih menyedihkan lagi, bahkan melebihi yang dialami JST: semua mata kuliah telah lulus, penelitian untuk tugas akhir dan seminar hasil penelitian sudah selesai, tetapi mahasiswa tersebut tetap DO.

Karena di detik-detik terakhir, dosen tidak hadir sebagai penguji skripsi. Itu sejatinya bukan DO dalam arti biasa, melainkan PO, dikeluarkan. Mahasiswa ditolak dan terjatuh (Tans Feliks. "Belajar dari Dua Narasi Kontras Undana". Apakah itu tidak lebih kejam?

Dalam kasus JST, saya mengapresiasi para pemimpin Undana yang saat ini sedang berupaya mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut. Memang, sebenarnya demikian.

Perguruan tinggi (PT) perlu terus berupaya memberikan yang terbaik bagi setiap mahasiswanya, tanpa memandang latar belakang maupun kondisinya.

Karena mahasiswa, seperti pemuda pada umumnya, merupakan masa depan bangsa: mereka adalah siswa hari ini, pemimpin besok.

Dengan memegang prinsip tersebut, pemimpin PT tidak hanya melindungi kepentingan mahasiswa dan keluarganya, tetapi juga negaranya.

Itu pendapat saya mengenai cara menghadapi dosen Londo Ireng yang masih berada di kampus, meskipun jumlahnya mungkin sedikit. Apa saran Anda? (*)

Ikuti terus informasi dan tulisan opini dari trimatra news di Google News