
KPA NEWS -, SEMARANG- Mahasiswa Program KKN Tematik (KKNT) IDBU Tim 18 Universitas Diponegoro (Undip) menyelenggarakan rangkaian kegiatan edukasi gizi dan pelatihan pengolahan makanan lokal di Desa Ketro, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan.
Program ini bertujuan untuk mendukung pencegahan stunting, peningkatan ketersediaan pangan di rumah tangga, serta pengembangan potensi ekonomi berdasarkan komoditas lokal.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan KKNT SDGs Center Universitas Diponegoro yang bekerja sama dengan Bappeda Provinsi Jawa Tengah dalam mendukung pengembangan desa berdasarkan kebutuhan masyarakat serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Tim 18 KKNT IDBU berada di bawah bimbingan Prof. Bulan Prabawani, S.Sos., M.M., Ph.D., Yoga Pratama, Ph.D., Ardy Wibowo, Ph.D., dan Swastika Dewi, M.Sc. Pendekatan lintas disiplin digunakan dengan menggabungkan aspek kesehatan, gizi, teknologi pangan, komunikasi, serta pengembangan usaha.
Rangkaian kegiatan dimulai pada 9 dan 10 Juli 2026 dengan melalui penyuluhan gizi di Posyandu Dusun Gedad dan Posyandu Dusun Larangan. Kegiatan ini ditujukan kepada ibu hamil dan ibu yang memiliki anak balita, dengan topik pembahasan tentang gizi seimbang, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak, pencegahan stunting, serta penerapan Lima Kunci Keamanan Pangan.
Pendidikan dilaksanakan bersamaan dengan layanan rutin Posyandu, seperti pengukuran berat badan, pemantauan pertumbuhan, dan pemberian makanan tambahan. Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa berkomunikasi langsung dengan peserta selama proses pelayanan berlangsung.
Kerja sama antara mahasiswa, anggota Posyandu, dan petugas kesehatan diharapkan mampu memperkuat peran keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemantauan pertumbuhan secara rutin.
Selain itu, mahasiswa Universitas Diponegoro mengadakan kelas masak pembuatan mi dari bahan dasar jagung bersama kelompok PKK Desa Ketro.
Peserta diberikan penjelasan tentang pemilihan bahan, cara membuat adonan, metode pengolahan, serta pengalaman langsung dalam menghasilkan mi jagung.
Pemilihan jagung didasarkan pada ketersediaannya sebagai salah satu komoditas lokal yang selama ini belum banyak dimanfaatkan untuk menghasilkan produk pangan dengan nilai tambah.
"Jagung yang biasanya lebih sering digunakan sebagai pakan ternak ternyata bisa diolah menjadi mi. Hal ini bisa menjadi pilihan produk yang dapat dikembangkan oleh para ibu," kata salah satu peserta dalam rilis yang diterima KPA NEWS, Sabtu (1/8/2026) malam.
Pelatihan tidak hanya memperkenalkan berbagai jenis pangan lokal, tetapi juga memberikan kesempatan untuk mengembangkan usaha keluarga dengan memproses jagung menjadi produk yang lebih kreatif dan bernilai jual tinggi.
Kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan brownies yang lembut dan berbahan dasar pisang di Balai Desa Ketro. Peserta terdiri dari ibu hamil, ibu dengan anak balita, kader Posyandu, perangkat desa, serta tenaga medis.
Sebelum praktik dimulai, para mahasiswa menyampaikan materi tentang kebersihan diri, kebersihan alat, keamanan bahan makanan, serta penggunaan oven dengan benar. Peserta selanjutnya melakukan praktik pembuatan brownies mulai dari pengolahan bahan hingga proses pengemasan produk.
"Kami tidak hanya mempelajari cara membuat brownies, tetapi juga mengerti bagaimana menggunakan oven, menyetel suhu, serta menjaga kebersihan selama proses pembuatan," kata salah satu peserta.
Setiap peserta mengambil pulang produk hasil praktik sebagai contoh nyata pemanfaatan pisang lokal menjadi makanan olahan yang bisa dikembangkan untuk digunakan dalam keluarga atau usaha skala rumah tangga.
Serangkaian kegiatan menunjukkan bahwa penanganan masalah gizi tidak hanya terkait dengan peningkatan pemahaman, tetapi juga dengan kemampuan keluarga dalam memproses sumber pangan yang ada di sekitar mereka.
Melalui program edukasi nutrisi dan kelas memasak, mahasiswa KKNT IDBU Tim 18 menghubungkan tiga elemen penting, yaitu kecukupan gizi keluarga, keamanan bahan pangan, serta peningkatan nilai komoditas lokal. Pendekatan ini diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. (*)